Pagi
itu, masih melewati deburan ombak yang membawa sang mentari mengalun
naik, dari Gunung Inerie, sinarnya memancar. Pukul 07.00 WIT sudah
terasa panas. Bergairah kali ini ia akan menemui kelas. Berharap
pengalaman pertamanya memberikan tapak yang tak mudah terlupa. Tibalah
di depan gapura sekolah. Tulisan SMP Negeri 3 Aimere menempel di pintu
utama sekolah. Bangunan SMP itu adalah bangunan yang dibuat atas
kerjasama negara Australia dan Indonesia lewat program block grant.
Bangunannya rapi dan cukup bersih dengan
lantai keramik. Berada di tanjakan desa Keligejo dan lebih tepatnya di
dukuh Nunumeo. Kalimat selamat pagi, silahkan duduk, bagaimana kabar
kalian, siapa yang tidak hadir hari ini, menjadi kalimat yang harus
fasih dikatakan setiap harinya. Dipandangi wajah muridnya satu persatu.
Tatapan murid-muridnya tak beralih, ada yang senyum, ada pula yang
terlalu fokus melihat, dan ada yang berbicara lirih. Inilah kesan
pertama Tri Wulan Rahayu, guru SM3T Universitas Negeri Yogyakarta yang
ditempatkan di SMP Negeri 3 Aimere, Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.
SM-3T atau Sarjana Mendidik di Daerah
Terdepan, Terluar, dan Tertinggal yang merupakan bagian dari program
Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia yang diprakarsai oleh Direktorat
Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam program ini, para sarjana
pendidikan direkrut, dipersiapkan, dan diterjunkan di wilayah
pengabdian. Selain mengajar, mereka juga melakukan kegiatan
kemasyarakatan.
“Di sini harus keras, Ibu. Kalau tidak
anak-anak akan seenaknya sendiri. Anak-anak di sini agak susah,
kemampuan menangkapnya rendah, otak-otak lambat. Saya beritahu saja,
Ibu,” kata Albertus Aedisius Mogo, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Aimere.
Ketika gadis desa Karang Nongko, Jarum, Bayat, Klaten tersebut
memperkenalkan diri dan menyebut alamat rumahnya, banyak murid yang
heran mendengar alamat itu.
“Akhirnya saya menyebut bahwa rumah saya
dekat dengan rumah Pak Jokowi,” kata Tri Wulan Rahayu. “Memang hanya
beberapa siswa yang mengenal mantan Walikota Solo tersebut, maklum
karena hanya beberapa tempat yang telah terjamah listrik, sedang
selebihnya banyak yang hanya bercahayakan pelita. Tempat saya mengajar
belum ada listrik.”
Kemarau panjang membuat desa ini miskin
air, pantas bila guru-guru mengeluh mencium bau tidak sedap ketika
mengajar, karena ada beberapa murid yang tidak mandi. Beberapa rumah
adat dan rumah permanen beratapkan seng berdiri, makam dengan nisan
keramik mematung di samping kanan dan kiri rumah . Kandang-kandang babi
dengan atap daun ilalang dan lontar juga turut menghiasi pekarangan
rumah Desa Keligejo. Tri Wulan Rahayu tinggal di sini selama setahun
bersama dua guru SM3T yang lain.
Alumni Jurusan Pendidikan Biologi ini
memancing muridnya di kelas VIII dengan pertanyaan tentang cita-cita
mereka. “Ketika saya katakan tentang cita-cita, mimik murid-murid
berubah,” ucap Tri Wulan Rahayu. “Memang saya sedikit memaksa mereka
untuk menimbulkan ke permukaan tentang impian mereka di masa depan.”
Dan ternyata beberapa murid perempuan
ingin menjadi perawat dan murid paling pintar, Fani, bercita-cita
menjadi guru, sedang beberapa murid laki-laki selain ingin menjadi
tentara juga ada yang ingin menjadi pemain bola seperti idola mereka
masing-masing. Ada sebuah cita-cita yang menarik yang ditemui Tri Wulan
Rahayu ketika memasuki kelas VII A. Fandrianus Bengu, yang biasa
dipanggil teman-temannya dengan nama Fandi itu dengan lugas dan lantang
mengatakan cita-citanya ingin menjadi sopir otto.
Otto adalah angkutan umum di Flores yang
merupakan truk diberi atap serta kursi yang menyerupai bis, lazim juga
disebut bis kayu. Ketika Tri Wulan Rahayu bertanya mengapa, oleh Fandi
dijawab ingin keliling Flores. Padahal medan lintasan Flores adalah
jalan yang sangat curam, sempit, bertebing, dan banyak jurang serta
berkelok-kelok. Memang mereka adalah anak-anak kampung dengan segala
keterbatasannya.
Di kala anak-anak yang lain telah mengenal gadget
dan segala kemewahan teknologi, anak-anak Aimere ini baru melihat tiang
listrik yang baru ditanam di tanah. Walaupun begitu, mereka tak patah
arang, pikiran mereka begitu membentang luas dan mendalam. Cita-cita
mereka tak kalah besar dan tinggi dengan anak-anak Jawa yang punya
segalanya.
“Walaupun hanya belajar dengan pelita,
kita tetap belajar kok, Ibu. Seperti Ibu bilang, kita harus tetap
belajar, membaca, dan menulis, kan?,” ucap Yano, salah satu murid
sepulang sekolah. “Teruslah bersekolah, teruslah belajar, teruslah
menulis, agar kalian nanti menggapai sebuah cita yang kalian ucapkan
tadi. Aimere akan sangat bangga, mempunyai guru, polwan, polisi,
perawat, bidan, atau tentara seperti kalian nanti,” tutup Tri Wulan
Rahayu. (Dedy)
Label Berita:






0 komentar:
Posting Komentar