This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 25 Oktober 2013

MENGAJAR DALAM KETERBATASAN, KISAH GURU SM3T UNY

Pagi itu, masih melewati deburan ombak yang membawa sang mentari mengalun naik, dari Gunung Inerie, sinarnya memancar. Pukul 07.00 WIT sudah terasa panas. Bergairah kali ini ia akan menemui kelas. Berharap pengalaman pertamanya memberikan tapak yang tak mudah terlupa. Tibalah di depan gapura sekolah. Tulisan SMP Negeri 3 Aimere menempel di pintu utama sekolah. Bangunan SMP itu adalah bangunan yang dibuat atas kerjasama negara Australia dan Indonesia lewat program block grant.
Bangunannya rapi dan cukup bersih dengan lantai keramik. Berada di tanjakan desa Keligejo dan lebih tepatnya di dukuh Nunumeo. Kalimat selamat pagi, silahkan duduk, bagaimana kabar kalian, siapa yang tidak hadir hari ini, menjadi kalimat yang harus fasih dikatakan setiap harinya. Dipandangi wajah muridnya satu persatu. Tatapan murid-muridnya tak beralih, ada yang senyum, ada pula yang terlalu fokus melihat, dan ada yang berbicara lirih. Inilah kesan pertama Tri Wulan Rahayu, guru SM3T Universitas Negeri Yogyakarta yang ditempatkan di SMP Negeri 3 Aimere, Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.
SM-3T atau  Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal yang merupakan bagian dari program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia yang diprakarsai oleh Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam program ini, para sarjana pendidikan direkrut, dipersiapkan, dan diterjunkan di wilayah pengabdian. Selain mengajar, mereka juga melakukan kegiatan kemasyarakatan.
“Di sini harus keras, Ibu. Kalau tidak anak-anak akan seenaknya sendiri. Anak-anak di sini agak susah, kemampuan menangkapnya rendah, otak-otak lambat. Saya beritahu saja, Ibu,” kata Albertus Aedisius Mogo, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Aimere. Ketika gadis desa Karang Nongko, Jarum, Bayat, Klaten tersebut memperkenalkan diri dan menyebut alamat rumahnya, banyak murid yang heran mendengar alamat itu.
“Akhirnya saya menyebut bahwa rumah saya dekat dengan rumah Pak Jokowi,” kata Tri Wulan Rahayu. “Memang hanya beberapa siswa yang mengenal mantan Walikota Solo tersebut, maklum karena hanya beberapa tempat yang telah terjamah listrik, sedang selebihnya banyak yang hanya bercahayakan pelita. Tempat saya mengajar belum ada listrik.”
Kemarau panjang membuat desa ini miskin air, pantas bila guru-guru mengeluh mencium bau tidak sedap ketika mengajar, karena ada beberapa murid yang tidak mandi. Beberapa rumah adat dan rumah permanen beratapkan seng berdiri, makam dengan nisan keramik mematung di samping kanan dan kiri rumah . Kandang-kandang babi dengan atap daun ilalang dan lontar juga turut menghiasi pekarangan rumah Desa Keligejo. Tri Wulan Rahayu tinggal di sini selama setahun bersama dua guru SM3T yang lain.
Alumni Jurusan Pendidikan Biologi ini memancing muridnya di kelas VIII dengan pertanyaan tentang cita-cita mereka. “Ketika saya katakan tentang cita-cita, mimik murid-murid berubah,” ucap Tri Wulan Rahayu. “Memang saya sedikit memaksa mereka untuk menimbulkan ke permukaan tentang impian mereka di masa depan.”
Dan ternyata beberapa murid perempuan ingin menjadi perawat dan murid paling pintar, Fani, bercita-cita menjadi guru, sedang beberapa murid laki-laki selain ingin menjadi tentara juga ada yang ingin menjadi pemain bola seperti idola mereka masing-masing. Ada sebuah cita-cita yang menarik yang ditemui Tri Wulan Rahayu ketika memasuki kelas VII A. Fandrianus Bengu, yang biasa dipanggil teman-temannya dengan nama Fandi itu dengan lugas dan lantang mengatakan cita-citanya ingin menjadi sopir otto.
Otto adalah angkutan umum di Flores yang merupakan truk diberi atap serta kursi yang menyerupai bis, lazim juga disebut bis kayu. Ketika Tri Wulan Rahayu bertanya mengapa, oleh Fandi dijawab ingin keliling Flores. Padahal medan lintasan Flores adalah jalan yang sangat curam, sempit, bertebing, dan banyak jurang serta berkelok-kelok. Memang mereka adalah anak-anak kampung dengan segala keterbatasannya.
Di kala anak-anak yang lain telah mengenal gadget dan segala kemewahan teknologi, anak-anak Aimere ini baru melihat tiang listrik yang baru ditanam di tanah. Walaupun begitu, mereka tak patah arang, pikiran mereka begitu membentang luas dan mendalam. Cita-cita mereka tak kalah besar dan tinggi dengan anak-anak Jawa yang punya segalanya.
“Walaupun hanya belajar dengan pelita, kita tetap belajar kok, Ibu. Seperti Ibu bilang, kita harus tetap belajar, membaca, dan menulis, kan?,” ucap Yano, salah satu murid sepulang sekolah. “Teruslah bersekolah, teruslah belajar, teruslah menulis, agar kalian nanti menggapai sebuah cita yang kalian ucapkan tadi. Aimere akan sangat bangga, mempunyai guru, polwan, polisi, perawat, bidan, atau tentara seperti kalian nanti,” tutup Tri Wulan Rahayu. (Dedy)
Label Berita: 

KISAH FEBY KRISTIFANY GURU SM3T DI MOLUTANGGA FLORES


Molutangga merupakan sebuah desa yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 2 jam dari kota Ende, menggunakan truk kayu sampai percabangan. Dari jalan raya masih sekitar 5 km masuk ke dalam. Jalan menuju desa tersebut masih tanah dan batu-batu lepas, dan harus melewati dua sungai yang kadang ketika banjir tidak bisa dilewati. Penduduk desa tersebut 100% beragama Katolik. Di desa tersebut berdiri sebuah SD yaitu SDN Molutangga, sebuah SD yang berada di tengah-tengah perbukitan yang baru 2 tahun berdiri.
“SD inilah yang menjadi tempat mengabdiku dalam program SM-3T. Di sinilah tempatku mengabdi kepada negaraku dengan mencerdaskan kehidupan bangsa.” Demikian cerita Feby Kristifany, guru SM3T yang ditempatkan di SDN Molutangga, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
SDN Molutangga merupakan sekolah baru yang memiliki gedung masih sangat darurat, yaitu terbuat dari bilik bambu, beralaskan tanah, beratap sebagian jerami dan sebagiannya dari seng. Hanya ada lima ruangan yang berukuran kurang lebih 4x4 m2, ruangan yang sangat sempit untuk mendapatkan pembelajaran yang ideal.
“Miris rasanya ketika menginjakkan kaki pertama di sini, bangku murid yang sangat memprihatinkan, yang ternyata bangku-bangku itu mereka bawa sendiri dari rumah. Beberapa murid yang orang tuanya tidak dapat membuatkan bangku maka harus menumpang di bangku temannya,” kata Feby Kristifany.
“Bahkan kursi yang diduduki guru pun meminjam kursi milik kapela. Bertambah miris rasanya ketika sudah ada kapur di tangan melihat papan tulis yang sudah berlubang di mana-mana. Mata anak-anak didiku itu dipaksa melihat tulisan di papan tulis yang menjadi terlihat samar-samar.”
Di desa Molutangga, sekolah memang belum menjadi sebuah kebutuhan, bahkan anak-anak itu masih hilang muncul dalam absennya. Gadis yang akrab dipanggil Fany tersebut berusaha menghadirkan mereka ke sekolah, bahkan hingga mendatanggi rumah mereka satu persatu dan menjemputnya ke sekolah. Ada yang mau, tapi tidak sedikit juga yang lari sembunyi. Hilang munculnya mereka bukan hanya karena belum ada keinginan untuk sekolah, namun juga muncul dari faktor orang tua.
“Kadangkala orang tua datang kepadaku dan meminta ijin anaknya tidak masuk sekolah karena harus membantu orang tuanya di sawah, di kebun, bahkan tubuh yang mungil itu harus membantu orang tuanya di hutan yang ditempuh dalam pendakian dengan jarak 5 km. Ketika pulang mereka menyunggi kayu dari hutan untuk dijual. Bayangkan jika tubuh kecil itu harus menyunggi beban di kepalanya seberat ±15 kg menuruni hutan.”
Awalnya Fany mengaku sangat sulit untuk dekat dengan mereka karena kemampuan bahasa Indonesia mereka yang sangat lemah, namun lama-lama komunikasi itu terjalin. “Saya mulai bisa berbahasa Lio Ende dan mereka mulai mengerti bahasa-bahasa Indonesia, walaupun kadang mereka tertawa terbahak-bahak jika saya mengeluarkan kata dalam bahasa Indonesia yang tidak pernah mereka dengar, dan saya harus menjelaskan arti kata-kata itu,” kata Fany.
Ketiadaan sarana dan prasarana memang tidak dipungkiri sangat mengganggu proses belajar mengajar. Minim sekali buku, hanya guru saja yang mempunyai buku. Itu saja sebatas buku paket satu buah. Seorang guru sampai dalam 1 semester ini belum pernah mengajar Kewarganegaraan gara-gara tidak ada buku. Beruntung sekali ketika itu bantuan buku dari UNY sampai di sekolah, walaupun tidak mencakup semua mata  pelajaran, namun buku-buku kiriman itu betul-betul sangat membantu.
Semester lalu ada LKS, namun harganya 15 ribu satu buah, harga yang sangat tinggi untuk orang tua siswa, sehingga LKS itu tidak mampu terbeli. Akibatnya guru harus menulis di papan tulis dan siswa mencatat. Dengan kemampuan baca dan tulis siswa yang masih belum maksimal, hal ini sangat menyita waktu. Dua orang anak kelas 5 masih mengeja untuk membaca. Untuk menulis pun mereka masih bekerja sangat keras. Kadang guru masih mengajarkan baca dan tulis yang baik untuk kelas tinggi.
Menurut Kepala Sekolah SDN Molutangga, Benyamin Fera, daya tangkap dan daya ingat mereka lemah. Hal ini karena asupan makanan yang jauh dari 4 sehat 5 sempurna. Berawal dari kata-kata itu, Fany berinisiatif menyuruh para siswa untuk membawa telur satu orang satu telur setiap Sabtu untuk mereka makan bersama agar mendapat asupan makanan bergizi. Ketika di rumah, satu telur biasa untuk 4 sampai 5 orang.
Alumni Prodi Pendidikan IPA FMIPA UNY tersebut mengungkapkan bahwa sampai saat ini yang masih susah untuk diubah adalah kesadaran mereka akan kebersihan diri terutama mandi pagi ketika sekolah dan sikat gigi. “Untuk itu, setiap pulang sekolah saya harus berpesan agar besok mereka mandi, dan untuk setiap jumat mereka diwajibkan membawa sikat gigi untuk menyikat gigi bersama,” kata Fany.
Setiap pagi Fany memeriksa kuku dan memotong kuku siswa satu persatu bagi yang masih panjang-panjang. “Mereka memberi saya banyak pengalaman yang mungkin tidak akan kutemui di tempatku berasal. Jagung, kopi, kacang mete, jeruk bali, jeruk lemon, dan kemiri kadang mereka berikan pada saya di sekolah, bahkan kadang ada yang mengantarkan ke rumah. Suatu kenangan indah ketika saya mengajarkan membuat pesawat terbang dari kertas, lalu kami lari ke atas bukit dan menerbangkannya bersama-sama. Terima kasih Tuhan..., Engkau telah mengirim saya ke sini,” tutup Fany