Semalam tanggal 21 februari 2014.
Tempatnya di Masjid agung Surabaya. 12 orang berkumpul, makan-makan dan
bercanda. Dan pada akhir acara bagi-bagi
surat pena yang isinya coment tentang penilaian kita terhadap teman kita. Dan
akhirnya ku buka 1 persatu surat. Dan setelah kubaca semua nya. Aku mendapat
predikat. Pemalu. Pelit. Kurang Gentle.
Emak-emaken. Depoong. Pelupa. Menyalahkan orang lain. Rajin. Misterius. Kurang macho. kurang terbuka. Endel. Sebagian besar memang benar. Namun ada yang
tidak kalian ketahui. HEHEHEHE.
1.
Asal Kata Depong
Sebenarnya dari SMA, beberapa temen ku ada yang
memanggil Depong…Depong. And aku juga manggil namanya(Bima) jadi Bimong. Hanya
panggilan lucu-lucuan aja. Biasakan arek SMA bercanda. And waktu di kontrakaan
lama , mas Ending salah satu temanku juga manggil gitu Depong. Entah dari mana
ya nemunya. And kalo di kelas itu dedong yang ngawalinya awalnya se biasa Depong…
Depong. Gpp kayak temen2 ku juga panggilanya begitu lha kok kalo jadi DEpy
remPONG. Mungkin gara2 waktu bahasa Indonesia yang Yel-Yel dulu. Karena tubuhku
yang kurus jadi kelihatan gemulai…… Adehhhhhh……
2.
Pelit.
Terima kasih telah diingatkan. Berarti aku harus
bersedekah lebih. Sebenarnya ku juga pengen sih ntraktir-ntraktir gitu. Tapi
karena kebutuhan yang tidak terkira2 kira sering datang tiba2 kantong ku kering. Contonhya sepeda motorku
yang memang sering rewel dan
kadang-kadang service tiap bulan yang biayanya g sedikit. Maklum sepeda tua.
(bukan maksud u/ mencari alasan tapi memang itu adanya). Mungkin juga karena di
ajak tante D…. buat shoping2. Kalau masalah pulsa. Kadang kalau di rumah aku
sering dimarahin sama mas ku terkadang kalau jual pulsa hanya untung Rp. 50,00
sekali piring. Njumuk batik ok titik nemen ora di undakno. Tapi aku sungkan
menaikkan harga. Memang sistem di M- Tronik g sama kayak di Conter. Kadang untung
50, 200, 100, 500, mungkin kalau beli 50.000 baru untung 1000. Tp aq tetep jual
sama kayak di conter. Sebenernya jual pulsa itu untungnya sedikit. Untung banyak
itu dari pmebelian saldo saja dapat berapa % gituloh tp aq g tau.
3.
Pelupa
Ya memang aku pelupa, g waktu kuliah waktu smp saja
sering ngelakuin hal-hal konyol kayak salah pake baju batik pas, hari selasa.
Infaq uang 100 rb. Dan masih banyak lagi. Kalo masalah nyatet pulsa, aku sangat
hati-hati. Kalau ragu aku selalu Tanya
ke orangnya udah bayar atau belum . kalua kasus agus kemarin memang
belum (hehehe sorry yo gus sebut namamu).
4.
Mak-maka an
Hehehe memang aku tiap minggu pulang. Itu memang ada
alasannya kaena nganter uang untuk isi saldo. Dan yang paling penting dirumah aku juga guru les. Terkadang kalau
aku pulang aku merasa males. Masak tiap hari ngelesi. Akan tetapi aku juga kasihan
lihat adik-adik tetanggaku. Mereka gak ada yang ngajarin. Sebenarnya aku punya
harapan agar mereka jadi orang sukses. Ya walaupun hanya hal kecil yang dapat
aku bantu.
5.
Menyalahkan oranglain.
hehehe, aku kadang nyalahkan orang lain. Itu hanya
bentuk alibi………
6.
Endel
Kalo mau tidur pakai lotion? Alasannya karena di
kontrakaan banyak nyamuk. Memang sebenarnya agak aneh sih. Kalau pake kipas
angina nanti masuk angin. kalau pakek soffel dkk, g tawar blentong-blentong
putih and panas (alergi). Setelah tak coba pakai lotin ternyata g di gigit nyampuk.
Jadi tak pake tiap malem. Hehehhe
7.
Rahasia Rajin.
Anak-anak bilang aku yang paling
rajin. Tapi rajin itu bentukan dari kecil.
Cerita masa lalu. “ waktu kelas 1-6 MI (madrasah
Ibtidaiyah )setiap pagi pukul 5 atau 4.30 aku sudah bangun setelah sholat, aku mandi “airnya dingin banget” kadang aku bantu-bantu
di dapur soalnya bantu ibu jualan di sekolah ku. Aku dan ibu ku berangkat ke
sekolah yang ada di sebelah desaku jam 06.00. kadang aku merasa malas karena
pagi-pagi sekali sudah berangkat ke sekolah. Padahal di desaku juga ada sekolah
yang jauh lebih bagus (SD). Dulu terkadang aku merasa iri sama teman yang
seusiaku. Aku sudah berangkat sekolah tapi mereka masih lari-lari dihalaman
rumah dan terkadang banyak yang masih
terlelap. Soalnya mereka berangkat ke
sekolah jam setengah 7 lebih. Itu
berlanjut sampai smp. Sma. Di SMP pun juga sama namun g terlalu pagi. Di SMA
malah jam setengah 6 sudah berangkat karena
soklahku jauh dari rumah. Aku harus nyari omprengan, naik bemo dan jalan
di atas jembatan gajah mada. Tak heran terkadang kalau di kampus jam masuk jam
7. Biasanya aku jam 6 sudah siap berangkat. Itu pun karena kebiasaan.
Kalau
dibilang rajin, malah menurutku aku g begitu rajin berbeda kayak slvy dedik
yang tulisannya rapi and tekun banget. Aku hanya belajar sebentar and mudah
memahami malahan aku lebih suka baca berita sebenarnya dari pad abaca buku
matematika. Masuk jurusan matematika itu bagi ku ajaib. Dulu matematika itu aku
benci namun sekarang sebalinya, memang mungkin benar kata orang
‘janganlah membenci sesuatu itu nanti malah
menyukainya’. Dari lulusan SD sebenarnya aku tak mempunyai basic sama sekali
belajar di jurusan matematika. Dulu waktu MI aku hanya tertarik sama pelajaran
Sejarah Islam. Di sekolahku dulu, aku hanya belajar menghafal hadits, sejarah
dan basic matematika ku ga ada. Saudara sepupuku yang mengajari matematika
namun “g nyanyol-nyantol”. Aku punya kakak yang pandai matematika pun. Dia
ga pernaha mengajari aku. Kalau masalah
hitung-hitungan biasa , bicara soal uang aku mesti kalah. Mikirnya lebih cepet
dari pada aku. Sampai sekarng. Namun masalah logika dan teknologi aku lebih
jago…. Hehehe.
Kemauan
untuk berubah adalah kuncinya. Dulu waktu kelas 2. Saat pulang, diatas jembatan
Gajah Mada terkadang aku berpikir keras. “mengapa aku tidak bisa pandai seperti
anak-anak” . mungkin dari situ aku membulatkan niat and berubah jadi lebih baik
tentunya pemikiran dan lain-lain. Aku ingat sebuah pepatah” ketika kamu
menginginkan sesuatu semesta akan mewujudkannya”. Tetapi tidak berubah jadi
power ranggers. Dan aku sangat berterima kasih Allah telah memberikan guru-guru
yang mendukung ku. Terkadang mereka
memandang diriku adalah masa mudanya mereka
memberikan harapan walaupun tak langsung diberikan padaku. Dari sorot
matanya aku tahu itu. Guru-guruku memberikan motivasi dan doa mereka . dan
doanya mereka itu terijabah aku ingat betul ketika salah seorang guru tang. “
Dep, gimana spmbnya ketrima?” ,“ Belum”
jawabku. “ oh gpp belum waktunya. Nanti pasti masuk kok”. Dan doa itu pun
terkabul. Dan satu lagi T.T. ketika
waktu masuk kuliah juga ada hal yang selalu ku ingat. Ketika Pak Haris
“dulu bilang dulu saya seperti Depy. Pendiam dll” hal itu juga kurasakan
seperti di SMA dulu, kata guru Fisika ku. Aku memposisikan diriku seperti
mereka waktu remaja dan menginginkan suatu kesuksesan yang dia miliki oleh guru
dan dosenku. Mungkin hanya itu yang bisa ku bagi, aku melakukan sesuatu yang
aku bisa. Dan hasilnya Allah yang ngatur.
8.
Kurang Macho.
Mungkin gara-gara kejadian ama wury itu ya hahaha.
Sebenarnya bukan bermaksud mengalah atau gak berani. Terkadang sesuatu yang ku
degngar dan itu berupa ilmu. Kadang langsung aku terapkan. “seseorang lelaki
itu tidak boleh memegang tangan ataupun tubuh seseorang yang bukan muhrimnya”
mungkin pikiranku terlalu jauh. Tapi itulah adanya. Waktu itu aku mengalah
karena dia pegang2 tangan ,. Kalau aku ngelawan and kalau aku salah pegang
gimana… hayo…?. Mungkin kalau ada orang yang ganggu gue lagi mungkin kalo aku
emosi takutnya nangis. Sebenarnya orang pendiam itu emosinya tinggi lho.
9.
Misterius.
kurang terbuka
Ya memang, pengalaman masa kecilku yang suram
menjadikan ku menjadi anak yang pendiam. Dilahirkan dengan nama yang agak
feminism mungkin tidak mengenakkan, ketika berkenalan dengan seseorang mesti
orang tersrbut menggumam ataupun mempertanyakan depi. Dedi,defi.devi pada hal
namaku
D E P Y dan sebenarnya aku belum bisa membaca
sebenarya dengan betul sering orang mengatakan depi padahal belakangnya kan y.
masak depye. Di SMP pun waktu kelas 1 namaku salah, di tulis DEDI and di kelas
2 berubah. Tapi temen2 banyak ngomel namanya belakangya keren laha kok depannya
kok…….. memang terkadang aku tidak suka ketika seseorang membahas namaku,
Waktu dan tempat yang salah memag aku sekolah di MI
setahun lebih cepat. Karena tidak ada yang menjagaku waktu sekolah aku sering
di bully sama temen-temen yang lebih dewasa. Memang beradaptasi dengan suasana
yang baru itu sulit. Ditambah lagi jauh dari rumah dan teman2 yang usianya
lebih tua. Dulu yang sebenarnya anak aktif dan suka bertanya , dan setelah
berjalanya waktu aku jadi anak pendiam . entah itu memang trauma. Ataupun yang
lain.
Kembali ke masalah nama, pernah suatu waktu aku bilang
ke ibuku. Bu ganti nama bisa g? wong akta kelahiran sudah jadi. Ijasah udah
jadi ya g bisa. Kadang aku terpikir kalau waktu bayi aku bisa ngomong “ Aku g
mau nama itu, ganti yang lain” tapi itu menghayal hehehhehe.
Namun guru bhs Indonesia ku menyadarkan ku, nama itu
sebuah doa. Tulisnya di buku diary waktu SMA yang dijadikan tugas. Ya memang
betul sih. Dilain pihak waktu kecil yang memberi namaku adalah mbah putri .
“katanya bayinya cantik” jadi dikasih itu deh. And dibelakangnya dikasih nama
Irawan jadi cek terdengar laki-lakinya.
Namun sekarang aku sudah terbiasa jika seseorang Tanya
mengapa namanya gitu kujawab kalau waktu bayi aku bisa ngomong “ Aku g mau nama
itu, ganti yang lain”. Sorry ya pribadiku yang pendiam terkadang sulit
mengutarakan kata-kata.
Tambahan
@ masalah anggapan negative soal perilaku ibuku itu
hanya pelampiasan aja. Bukan bermaksud membenci . karena aku orang yang dekat
dengan beliau jadi sering bertengkar. Kadang akupun dengan rela untuk pulang
mendengar omelan ibuku, baik tupun memang salahku ataupun terkadang effect dari
masalah yang dihadapinya. Kadang wanita itu butuh melampiaskan emosinya . lha
itu aku jadi pelampiasan. Wlaupun kalau aku di omeli masuk telinga kiri keluar
telinga kanan.
@masalah anak kimia. Sebenarnya dulu kata temen kita
initial I. ada kemungkinan yang suka aku itu si Dia. Mungkin akunya yang kurang
PD. Kadang aku dan Dia juga catting FB. Namun sekarang dia ada yang punya. Dan
sayangnya lagi aku kenal sama pacarnya.
Ya sudahlah kalau jodoh gak kemana kok. Ku buka lembaran baru.
@beban yang berat. Terkadang kalau di rumah selalu
disindir kalau memang aku di biayain sama kakakku. Jadi aku harus bebuat baik.
Iya memang kewajibanku namun tidak setiap aku begini diungkit lagi. Aku begitu di
ungkit lagi. Menurutku ada suatu saat nanti aku akan balas budi. Jadi terkadang
pikiran itu yang menggangguku.
Banyak koment yang kalian berikan membangun diriku menjadi
lebih baik. Terima kasih telah menerima ku. Apa adanya. Thanks for All.