This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 21 Februari 2014

BENAHI PENDIDIKAN INDONESIA DARI AKARNYA




Dari 65 negara yang ikut dalam survey PISA-OECD, Indonesia  menduduki peringkat paling bawah. Survei PISA-OECD ini dilakukan secara kualitatif pada tahun 2012 lalu yang baru dirilis awal pekan Desember 2013. Survei ini melibatkan responden 510 ribu pelajar berusia 15-16 tahun dari 65 negara dunia yang mewakili populasi 28 juta siswa berusia 15-16 tahun di dunia serta 80 persen ekonomi global. Hasil ini mengindikasikan bahwa sitem pendidikan Indonesia yang buruk.
Selain itu, Indeks tingkat pendidikan tinggi Indonesia juga dinilai masih rendah yaitu 14,6 persen, berbeda dengan Singapura dan Malaysia yang sudah mempunyai indeks tingkat pendidikan yang lebih baik yaitu 28 persen dan 33 persen(Subandi Sardjoko,Direktur BAPPENAS). Perlunya gebrakan baru dalam membenahi pendidikan di Indonesia sangat di butuhkan. Harus ada pemimpin dari generasi muda yang sadar akan pentingnya pendidikan.
Pendidikan di Indonesia di  ibaratkan seperti pohon. Dimana apabila kuat akarnya maka pohon tersebut akan kokoh walaupun diterpa oleh angin. Pada kenyataannya sekolah dasar (Akar Pohon) yang menjadi awal dari anak-anak Indonesia belajar tidaklah menampakkan akar yang kuat bagi sebuah pohon. Jutaan anak-anak Indonesia mengenyam pendidikan di tingkat dasar kurang memenuhi standar yang di inginkan. Lihat saja pendidikan dasar di Papua, di pedalaman Kalimantan yang memiliki fasilitas terbatas , dimana fasilitas sangat di butuhkan demi kemajuan pendidikan. Guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah dasar di Indonesia belum mencapai kualifikasi yang di inginkan. Masih banyak Guru SD yang berasal dari lulusan SMA/SMK. Padahal pendidikan di Sekolah Dasar sangatlah penting untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
Apabila kita melihat sistem pendidikan Dasar di Korea Selatan. Di sana menjadi guru Sekolah Dasar  adalah suatu penghormatan yang tertinggi dari pada menjadi guru SMP atau SMA. Mayoritas guru yang mengajar di SD di korea adalah lulusan S2. Mereka yang menjadi guru SD mendapatkan penghormatan tertinggi dari lingkunganya dan dari pergaulannya. Di Negara Jepang, Profesor-Profesor Pendidikan turun langsung mengawasi ataupun mengajar di sekolah dasar untuk mengontrol langsung perkembangan pendidikan dasar yang ada di Jepang. Terlihat sangat mencolok sistem pendidikan yang kita miliki dengan Negara-negara berkembang, terlebig lagi banyaknya jumlah sekolah dasar yang ada. Sangatlah sulit mengambil suatu kebijakan yang dapat merubah sistem yang ada.
 Masih rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, akan melemahkan daya saing Indonesia dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean 2015. Oleh sebab itu,  kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia, dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan melakukan terobosan terbaru dalam sektor pendidikan.
Sudah menjadi berita umum bahwa pemerintah memiliki program wajib Sembilan tahun. Namun program tersebut sudah selayaknya di berikan untuk warga Negara. Karena setiap warga Negara berhak untuk mendapatkan pendidikan.
Selain itu, pemerintah harus terus meningkatkan kualitas kurikulum pendidikan . baik itu di sekolah sekolah maupun perguruan tinggi. Tak hanya itu, kurikulum yang digunakan haruslah bersifat world update dimana kurikulum tersebut harus mengikuti perkembangan dunia.
Disaat ini Indonesia butuh pemimpin yang berani memiliki suatu inovasi ataupun terobosan untuk memperbaiki sistem pendidikan Indonesia. Pemimpin yang berjiwa muda, mengerti akan pendidikan Indonesia yang kompleks dan berani mengambil resiko. Pendidikan suatu kunci dari kemakmuran suatu Negara. Negara yang pendidikannya baik maka Negara itu akan sejahtera penduduknya.

Dinno Patti Djalal, Meniti Langkah Jalan Kehidupan




Dino Patti Djalal. Lahir di Beograd Yugoslavia, 10 September 1965. Berlatar belakang  sebagai seorang diplomat, aktivis muda, akademisi dan juga penulis buku best seller nasional. Dino, nama panggilannya merupakan putra dari pasangan Hasyim Djalal (ayah) dan Jurni (ibu). Ayahnya Hasyim Djalal  merupakan seorang diplomat ternama di Indonesia.  Seperti kata pepatah “ Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Dino juga mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang diplomat yang tak kalah pamornya dengan ayahnya. Dino Patti Djalal menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat sejak tahun 2000 sampai saat ini.
            Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Politik KBRI Washington dan Direktur Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri ini menempuh pendidikannya di SD dan  SMP  Al-Azhar. kemudian dia melanjutkan pendidikan ke McLean High School, Amerika Serikat. S1 di Carleton university, Kanada, S2 di Simon Frazer University, Kanada dan gelar doktor bidang Hubungan Internasional di London School for Economic and Political Science di Inggris.
            Sebagai seorang anak diplomat, dini tumbuh besar di Amerika Serikat. Tempat dimana ayahnya bekerja. KBRI merupakan tempat yang menjadi saksi bisu akan kisah hidupnya.  Pekrjaan sebagai tukang cuci piring pernah ia lakukan. Terkadang dia membantu orang-orang yang bekerja di gudang KBRI. Sebagai anak dari seorang diplomat. Dino kecil tidak sungkan untuk bekerja sambilan. Di AS banyak remaja yang mengambil kerja sambilan dengan bersekolah. Setelah lebih dewasa Dino pernah menjajal profesi seperti Pelatih tenis, koki di restoran, penjaga tiket bioskop maupun asisten dosen. Dari penghasilannya Dino dewasa mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia adalah pria mandiri yang tidak suka merengek-rengek kepada orang tua untuk meminta uang. Pengalaman kerja membuat Dino bertanggung jawab, menghargai aturan, disiplin, dan kalkulatif.
`           Karier politiknya dimulai pada tahun 1978 dengan bergabung dalam Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. Ia juga pernah ditugaskan ke Dili, London dan Washington DC sebelum ditunjuk menjadi Direktur Hubungan Politik Amerika Utara pada tahun 2002. dan pengalaman yang sangat berharga dalam bidang politik adalah ia pernah menjadi juru bicara presiden. Pada posisi ini dia mengembangkan kemampuan akan  analisa, berpidato, speech writing, lobbying, dan leadership. Dino mendapatkan kemampuannya dengan susah payah dengan berlatih,  tidak ada yang instan dan kemampuan itu bukanlah kemampuan alami yang ia miliki.
            Sebagai seorang politisi sekaligus seorang diplomat. Dino menelurkan beberapa karya yang patut untuk dibaca antara lain buku yang berjudul “The Geopolitics of Indonesia's Maritime Territorial Policy”, “Transforming Indonesia”, “Indonesia on the Move”, “Harus Bisa!”  dan “Energi Positif”  yang diterbitkan tahun 2009. Dan beberapa artikel lain baik domestic dan Internasional karyanya dimuat di media massa.
            Dari perjalanan hidupnya patut kita contoh, dari seorang anak diplomat yang pernah menjadi pencuci piring di KBRI AS dan sekarang menjadi orang nomer satu di KBRI AS. Dedikasinya terhadap Negara mengantarkan Dino menjadi diplomat yang ternama di negeri Paman Sam, etos kerjanya , prinsip hidupnya patut kita contoh dan kita ceritakan kepada anak cucu kita. Dan kata yang paling penting yang diucapkan Dino adalah menjadi diri sendiri, "Define yourself; don't let others define you," begitu ucap Dino.
           

12 BINTANG



Semalam tanggal 21 februari 2014. Tempatnya di Masjid agung Surabaya. 12 orang berkumpul, makan-makan dan bercanda. Dan pada akhir acara  bagi-bagi surat pena yang isinya coment tentang penilaian kita terhadap teman kita. Dan akhirnya ku buka 1 persatu surat. Dan setelah kubaca semua nya. Aku mendapat predikat.  Pemalu. Pelit. Kurang Gentle. Emak-emaken. Depoong. Pelupa. Menyalahkan orang lain. Rajin. Misterius. Kurang  macho. kurang terbuka. Endel.  Sebagian besar memang benar. Namun ada yang tidak kalian ketahui. HEHEHEHE.
1.       Asal Kata Depong
Sebenarnya dari SMA, beberapa temen ku ada yang memanggil Depong…Depong. And aku juga manggil namanya(Bima) jadi Bimong. Hanya panggilan lucu-lucuan aja. Biasakan arek SMA bercanda. And waktu di kontrakaan lama , mas Ending salah satu temanku juga manggil gitu Depong. Entah dari mana ya nemunya. And kalo di kelas itu dedong yang ngawalinya awalnya se biasa Depong… Depong. Gpp kayak temen2 ku juga panggilanya begitu lha kok kalo jadi DEpy remPONG. Mungkin gara2 waktu bahasa Indonesia yang Yel-Yel dulu. Karena tubuhku yang kurus jadi kelihatan gemulai…… Adehhhhhh……

2.       Pelit.
Terima kasih telah diingatkan. Berarti aku harus bersedekah lebih. Sebenarnya ku juga pengen sih ntraktir-ntraktir gitu. Tapi karena kebutuhan yang tidak terkira2 kira sering datang tiba2  kantong ku kering. Contonhya sepeda motorku yang memang sering rewel  dan kadang-kadang service tiap bulan yang biayanya g sedikit. Maklum sepeda tua. (bukan maksud u/ mencari alasan tapi memang itu adanya). Mungkin juga karena di ajak tante D…. buat shoping2. Kalau masalah pulsa. Kadang kalau di rumah aku sering dimarahin sama mas ku terkadang kalau jual pulsa hanya untung Rp. 50,00 sekali piring. Njumuk batik ok titik nemen ora di undakno. Tapi aku sungkan menaikkan harga. Memang sistem di M- Tronik g sama kayak di Conter. Kadang untung 50, 200, 100, 500, mungkin kalau beli 50.000 baru untung 1000. Tp aq tetep jual sama kayak di conter. Sebenernya jual pulsa itu untungnya sedikit. Untung banyak itu dari pmebelian saldo saja dapat berapa % gituloh tp aq g tau.

3.       Pelupa
Ya memang aku pelupa, g waktu kuliah waktu smp saja sering ngelakuin hal-hal konyol kayak salah pake baju batik pas, hari selasa. Infaq uang 100 rb. Dan masih banyak lagi. Kalo masalah nyatet pulsa, aku sangat hati-hati. Kalau ragu aku selalu Tanya  ke orangnya udah bayar atau belum . kalua kasus agus kemarin memang belum (hehehe sorry yo gus sebut namamu).

4.       Mak-maka an
Hehehe memang aku tiap minggu pulang. Itu memang ada alasannya kaena nganter uang untuk isi saldo. Dan yang paling penting  dirumah aku juga guru les. Terkadang kalau aku pulang aku merasa males. Masak tiap hari ngelesi. Akan tetapi aku juga kasihan lihat adik-adik tetanggaku. Mereka gak ada yang ngajarin. Sebenarnya aku punya harapan agar mereka jadi orang sukses. Ya walaupun hanya hal kecil yang dapat aku bantu.


5.      Menyalahkan oranglain.
hehehe, aku kadang nyalahkan orang lain. Itu hanya bentuk alibi………
6.        Endel
Kalo mau tidur pakai lotion? Alasannya karena di kontrakaan banyak nyamuk. Memang sebenarnya agak aneh sih. Kalau pake kipas angina nanti masuk angin. kalau pakek soffel dkk, g tawar blentong-blentong putih and panas (alergi). Setelah tak coba pakai lotin ternyata g di gigit nyampuk. Jadi tak pake tiap malem. Hehehhe
7.       Rahasia Rajin.
Anak-anak bilang aku yang paling rajin. Tapi rajin itu bentukan dari kecil.
Cerita masa lalu. “ waktu kelas 1-6 MI (madrasah Ibtidaiyah )setiap pagi pukul 5 atau 4.30 aku sudah bangun  setelah sholat, aku mandi  “airnya dingin banget” kadang aku bantu-bantu di dapur soalnya bantu ibu jualan di sekolah ku. Aku dan ibu ku berangkat ke sekolah yang ada di sebelah desaku jam 06.00. kadang aku merasa malas karena pagi-pagi sekali sudah berangkat ke sekolah. Padahal di desaku juga ada sekolah yang jauh lebih bagus (SD). Dulu terkadang aku merasa iri sama teman yang seusiaku. Aku sudah berangkat sekolah tapi mereka masih lari-lari dihalaman rumah dan terkadang  banyak yang masih terlelap. Soalnya mereka berangkat  ke sekolah jam  setengah 7 lebih. Itu berlanjut sampai smp. Sma. Di SMP pun juga sama namun g terlalu pagi. Di SMA malah jam setengah 6 sudah berangkat karena  soklahku jauh dari rumah. Aku harus nyari omprengan, naik bemo dan jalan di atas jembatan gajah mada. Tak heran terkadang kalau di kampus jam masuk jam 7. Biasanya aku jam 6 sudah siap berangkat. Itu pun karena kebiasaan.
       Kalau dibilang rajin, malah menurutku aku g begitu rajin berbeda kayak slvy dedik yang tulisannya rapi and tekun banget. Aku hanya belajar sebentar and mudah memahami malahan aku lebih suka baca berita sebenarnya dari pad abaca buku matematika. Masuk jurusan matematika itu bagi ku ajaib. Dulu matematika itu aku benci namun sekarang sebalinya, memang mungkin benar kata orang
‘janganlah membenci sesuatu itu nanti malah menyukainya’. Dari lulusan SD sebenarnya aku tak mempunyai basic sama sekali belajar di jurusan matematika. Dulu waktu MI aku hanya tertarik sama pelajaran Sejarah Islam. Di sekolahku dulu, aku hanya belajar menghafal hadits, sejarah dan basic matematika ku ga ada. Saudara sepupuku yang mengajari matematika namun “g nyanyol-nyantol”. Aku punya kakak yang pandai matematika pun. Dia ga  pernaha mengajari aku. Kalau masalah hitung-hitungan biasa , bicara soal uang aku mesti kalah. Mikirnya lebih cepet dari pada aku. Sampai sekarng. Namun masalah logika dan teknologi aku lebih jago…. Hehehe.
       Kemauan untuk berubah adalah kuncinya. Dulu waktu kelas 2. Saat pulang, diatas jembatan Gajah Mada terkadang aku berpikir keras. “mengapa aku tidak bisa pandai seperti anak-anak” . mungkin dari situ aku membulatkan niat and berubah jadi lebih baik tentunya pemikiran dan lain-lain. Aku ingat sebuah pepatah” ketika kamu menginginkan sesuatu semesta akan mewujudkannya”. Tetapi tidak berubah jadi power ranggers. Dan aku sangat berterima kasih Allah telah memberikan guru-guru yang mendukung ku.  Terkadang mereka memandang diriku adalah masa mudanya mereka  memberikan harapan walaupun tak langsung diberikan padaku. Dari sorot matanya aku tahu itu. Guru-guruku memberikan motivasi dan doa mereka . dan doanya mereka itu terijabah aku ingat betul ketika salah seorang guru tang. “ Dep, gimana spmbnya  ketrima?” ,“ Belum” jawabku. “ oh gpp belum waktunya. Nanti pasti masuk kok”. Dan doa itu pun terkabul. Dan satu lagi T.T. ketika  waktu masuk kuliah juga ada hal yang selalu ku ingat. Ketika Pak Haris “dulu bilang dulu saya seperti Depy. Pendiam dll” hal itu juga kurasakan seperti di SMA dulu, kata guru Fisika ku. Aku memposisikan diriku seperti mereka waktu remaja dan menginginkan suatu kesuksesan yang dia miliki oleh guru dan dosenku. Mungkin hanya itu yang bisa ku bagi, aku melakukan sesuatu yang aku bisa. Dan hasilnya Allah yang ngatur.
8.                   Kurang Macho.
Mungkin gara-gara kejadian ama wury itu ya hahaha. Sebenarnya bukan bermaksud mengalah atau gak berani. Terkadang sesuatu yang ku degngar dan itu berupa ilmu. Kadang langsung aku terapkan. “seseorang lelaki itu tidak boleh memegang tangan ataupun tubuh seseorang yang bukan muhrimnya” mungkin pikiranku terlalu jauh. Tapi itulah adanya. Waktu itu aku mengalah karena dia pegang2 tangan ,. Kalau aku ngelawan and kalau aku salah pegang gimana… hayo…?. Mungkin kalau ada orang yang ganggu gue lagi mungkin kalo aku emosi takutnya nangis. Sebenarnya orang pendiam itu emosinya tinggi lho.

9.        Misterius. kurang terbuka
Ya memang, pengalaman masa kecilku yang suram menjadikan ku menjadi anak yang pendiam. Dilahirkan dengan nama yang agak feminism mungkin tidak mengenakkan, ketika berkenalan dengan seseorang mesti orang tersrbut menggumam ataupun mempertanyakan depi. Dedi,defi.devi pada hal namaku
D E P Y dan sebenarnya aku belum bisa membaca sebenarya dengan betul sering orang mengatakan depi padahal belakangnya kan y. masak depye. Di SMP pun waktu kelas 1 namaku salah, di tulis DEDI and di kelas 2 berubah. Tapi temen2 banyak ngomel namanya belakangya keren laha kok depannya kok…….. memang terkadang aku tidak suka ketika seseorang membahas namaku,
Waktu dan tempat yang salah memag aku sekolah di MI setahun lebih cepat. Karena tidak ada yang menjagaku waktu sekolah aku sering di bully sama temen-temen yang lebih dewasa. Memang beradaptasi dengan suasana yang baru itu sulit. Ditambah lagi jauh dari rumah dan teman2 yang usianya lebih tua. Dulu yang sebenarnya anak aktif dan suka bertanya , dan setelah berjalanya waktu aku jadi anak pendiam . entah itu memang trauma. Ataupun yang lain.
Kembali ke masalah nama, pernah suatu waktu aku bilang ke ibuku. Bu ganti nama bisa g? wong akta kelahiran sudah jadi. Ijasah udah jadi ya g bisa. Kadang aku terpikir kalau waktu bayi aku bisa ngomong “ Aku g mau nama itu, ganti yang lain” tapi itu menghayal hehehhehe.
Namun guru bhs Indonesia ku menyadarkan ku, nama itu sebuah doa. Tulisnya di buku diary waktu SMA yang dijadikan tugas. Ya memang betul sih. Dilain pihak waktu kecil yang memberi namaku adalah mbah putri . “katanya bayinya cantik” jadi dikasih itu deh. And dibelakangnya dikasih nama Irawan jadi cek terdengar laki-lakinya.
Namun sekarang aku sudah terbiasa jika seseorang Tanya mengapa namanya gitu kujawab kalau waktu bayi aku bisa ngomong “ Aku g mau nama itu, ganti yang lain”. Sorry ya pribadiku yang pendiam terkadang sulit mengutarakan kata-kata.

Tambahan
@ masalah anggapan negative soal perilaku ibuku itu hanya pelampiasan aja. Bukan bermaksud membenci . karena aku orang yang dekat dengan beliau jadi sering bertengkar. Kadang akupun dengan rela untuk pulang mendengar omelan ibuku, baik tupun memang salahku ataupun terkadang effect dari masalah yang dihadapinya. Kadang wanita itu butuh melampiaskan emosinya . lha itu aku jadi pelampiasan. Wlaupun kalau aku di omeli masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

@masalah anak kimia. Sebenarnya dulu kata temen kita initial I. ada kemungkinan yang suka aku itu si Dia. Mungkin akunya yang kurang PD. Kadang aku dan Dia juga catting FB. Namun sekarang dia ada yang punya. Dan sayangnya lagi aku kenal sama  pacarnya. Ya sudahlah kalau jodoh gak kemana kok. Ku buka lembaran baru.

@beban yang berat. Terkadang kalau di rumah selalu disindir kalau memang aku di biayain sama kakakku. Jadi aku harus bebuat baik. Iya memang kewajibanku namun tidak setiap aku begini diungkit lagi. Aku begitu di ungkit lagi. Menurutku ada suatu saat nanti aku akan balas budi. Jadi terkadang pikiran itu yang menggangguku.

Banyak koment yang kalian berikan membangun diriku menjadi lebih baik. Terima kasih telah menerima ku. Apa adanya. Thanks for All.